Fiction
Jenang Gulo [3]

30 Aug 2012


<<<<  Cerita Sebelumnya

Wasiat Papa yang dibacakan di depan Mama, Mas Andi, Mbak Fira, Ara, dan Lestari membuat kaget. Betapa tidak, Papa mewariskan rumah kepada Lestari, anak dari istri kedua Papa yang sudah lama ‘menghilang’ sejak perceraian Papa dengan ibu Lestari. Lestari sendiri juga tak menyangka akan diwarisi rumah yang penuh kenangan itu. Atas suruhan Fira, Ara pun berusaha meminta Lestari untuk menjual rumah warisan itu kepada saudara tirinya. Namun, Ara menemukan cara pandang berbeda setelah mulai akrab dengan Lestari.

Makan malam yang meriah, meski harus berdesakan di sekeliling meja bundar yang sebenarnya hanya muat empat orang. Awalnya semua menggunakan sendok dan garpu. Tapi, akhirnya kedua benda itu jadi merepotkan. Ali  yang pertama menanggalkannya, ketika mulai mengorek telur kepiting dari cangkangnya.
    Lalu semua kenyang. Masakanku memuaskan mereka. Aku mendapat sanjungan sebagai koki hebat. Berlebihan sebenarnya, tapi menyenangkan.
    Lestari mengedarkan jeruk untuk menghilangkan amis di mulut sebelum acara cuci piring dimulai. Ali secara jenaka merampas jeruk yang terkupas dari tangan kekasihnya. Tak ada protes dari si pemilik. Jadi, kusimpulkan, itu satu cara mereka bermanja satu sama lain. Ehmm…  ingatanku jadi melayang pada orang yang mungkin saat ini sedang mencariku. Tepat di saat itu, ponselku berbunyi. Itu dia orangnya. Pandu. Tapi, aku sedang tak ingin menerimanya.
    “Kok, diabaikan, Mbak? Hayooo ... dari siapa?”
    Seloroh Ali itu memancing deheman dari Lestari dan krunya. Apalagi barang kecil itu terus berbunyi dan berbunyi dengan nyinyir.
     “Hei, aku tidak menerima keluhan klien di malam Minggu. Terlebih lagi dalam kondisi kenyang seperti ini.”
    “Tapi, kurasa itu adalah 'klien' yang sangat membutuhkan perhatian Mbak. Lihat saja betapa gigihnya dia menelepon. Jadi, sebaiknya Mbak terima saja.”
    Kubiarkan mereka terus menggodaku.
    Malam, ketika bersiap tidur, baru kutelepon Pandu.
    “Hai, di mana kau? Kenapa tak menerima teleponku tadi? Kau baik-baik saja?”
    “Maaf, aku sedang sibuk di dapur tadi.”
    Lestari yang sedang membersihkan wajahnya tersenyum mendengarku berbohong dengan lancar.
    “Di dapur? Aku tadi ke rumahmu dan Bi Yati bilang kau pergi sejak siang tadi.”
    “Ya. Aku di Surabaya. Menginap di rumah saudaraku.”
    “Saudaramu?”
    Jelas ada nada heran di suaranya.
    “Ya. Kini aku punya saudara di Surabaya.”
    “Ara, kenapa tak memberi tahuku?”
    “Kupikir kau tak datang. Kau juga tak memberiku kabar sebelumnya. Kupikir Bulan masih belum sehat betul sehingga kau belum bisa menemuiku.”
    Ada helaan napas di seberang sana.
    “Bulan sudah keluar dari rumah sakit Selasa kemarin. Aku sudah cerita, ‘kan?”
    “Ya. Di mana kau sekarang?”
    “Di rumah. Tapi, besok pagi aku harus ke Malang lagi. Bulan minta ditemani berenang. Kapan kau pulang?”
    Ah, dia sedang mencuri waktu untukku. Sedikit sesal menyelip di hatiku, tapi cuma sedikit.
    “Besok malam mungkin. Besok siang masih ada yang harus kukerjakan di sini.”
    Lagi-lagi kudengar  embusan napasnya. Tapi, aku sedang tak hendak mengubah keputusanku. Tak perlu ada pertemuan minggu ini.
    “OK, minggu depan tolong luangkan waktu untuk kita.”
    Kujawab ya, sekadar untuk mengakhiri pembicaraan itu. Jujur, aku tak yakin apakah minggu depan hatiku cukup  'berasa' untuk menemuinya.


    Lestari berdehem. Senyumnya jelas bermaksud menggoda.
    “Pacar ya, Mbak? Orang mana? Pasti ganteng.”
    Mau tak mau aku tersenyum. Pandu memang ganteng.
    “Kapan Mbak menikah dengannya?”
    Pertanyaan langsung yang sebenarnya tak kuduga akan diutarakan secepat itu. Dan jawabannya adalah, “Belum ada rencana pasti.”
    “Kenapa?”
    “Karena masih ada banyak hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu.” Termasuk mendapatkan restu Mama yang tak suka pada status Pandu. “Kau sendiri, kapan menikah? Ali kelihatannya baik sekali. Kalian cocok. Tunggu apa lagi?”
    “Ehm ....  belum ada rencana pasti. Karena masih ada banyak hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu.”
    Kupukul bahunya dengan guling karena menggunakan kata-kataku. Tawanya berderai.
    “Karena memang begitu keadaannya, Mbak.”
    “Keadaan apa?”
    “Ali punya kakak perempuan yang baru akan menikah tujuh bulan lagi. Setelah itu, harus ada jeda satu tahun sebelum ada pernikahan lagi.”
    “Kenapa harus satu tahun?”
    “Ehm .... sekadar tradisi saja. Kalau aku dan Ali, melihatnya sebagai tambahan waktu untuk menabung. Menikah kan bukannya tak butuh biaya. Bukan sekadar biaya pesta, tapi juga 'sangu' untuk kami berkeluarga nanti. Ali kepingin punya cukup uang paling tidak untuk membayar uang muka kredit rumah. Atau, kalau tidak, ya, membeli rumah ini. Jadi, tidak seterusnya menyewa dari Pakde Sapto.”
    Terpikir untuk mengingatkan aset baru yang bisa dia gunakan untuk mewujudkan hal itu, tapi kuurungkan. Aku tak mau membuat suasana jadi tak enak.
    “Jadi tak masalah bagi kami untuk menunggu dua tahun lagi.”
    “Tak takut ada yang mencurinya darimu selama waktu menunggu?”
    “Oh jangannn…!”
    Sebenarnya, ekspresinya terlihat lucu saat itu, tapi kemudian mimiknya berubah serius.
    “Jujur, aku tak bisa membayangkan sedihnya jika itu terjadi. Karena, selama ini rasanya cuma Ali yang bisa mengerti aku dan semua embel-embel di belakangku. Dia tahu banyak hal tentang aku, keluargaku. Kami saling kenal sejak SD. Rasanya tak ada yang tak terlihat. Tak ada yang perlu ditutupi. Tak ada yang perlu dijelaskan. Aku nyaman  sekali dengannya.  Dan mungkin tak bisa hidup tanpanya ... ha…ha…ha….”
    Walau ada tawa di belakang kalimatnya,   aku yakin dia sungguh-sungguh. Cinta yang terdengar indah, tapi naif pula.   
    “Sekarang giliran Mbak.”
    “Giliran apa?”
    “Halah, kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu! Hayo, mulai saja dengan namanya. Siapa namanya?”
    “Ehmm… Pandu.”
    “Terus ...?”
    “Terus ..... ehmm waktunya kita tidur. Besok kau ada rencana keluar? Aku ikut, ya?”
    Kini bahuku yang dipukulnya dengan guling.
    “Curang!”
    “Hei, sudah malam. Aku tak mau bangun kesiangan di rumah orang. Malu aku.”
    “Ini bukan rumah orang! Jadi, silakan bangun siang.”
    “Besok kau ada rencana ke mana?”
    “Beli kancing, benang, dan kain keras.”
    “Okay, aku ikut. Dan mari kita tidur sekarang!”
    Sekali lagi gulingnya mendarat di bahuku.
    Besoknya, ketika sampai  di rumah, kudapati ada buku masih terbungkus plastik di tempat tidurku. Sister of My Heart, Citra Banerjee Divakaruni. Bulan lalu Pandu menemaniku berkeliling dari satu toko buku ke toko buku yang lain demi mendapatkannya dan hasilnya nihil. Ada kartu nama Pandu. Tulisan tangan di baliknya membuatku setengah mati menahan diri untuk tidak menelepon. Deretan huruf kecil yang bisa memberi efek besar sebenarnya:  'aku kangen'.
*
    Kulit cokelat, badan menjulang dengan berat proporsional, perut rata, hidung apik, dan mata tajam tapi tak acuh yang nyaris tak pernah lepas dari kacamata. Cenderung pendiam, tapi teman mengobrol yang menyenangkan. Itulah Pandu. Pandu Dewanata lengkapnya.  Sekali lihat, aku langsung suka. Kami kenal karena akulah yang mengerjakan interior kantornya.     Dia suka hitam dan merah. Hitam penuh misteri, sementara merah memberi energi. Begitu katanya. Jadilah ruangan kantornya kubuat dominan hitam dengan aksentuasi merah. Dia suka. Selepas proyek selesai, kami  masih saling mencari dengan berupa-rupa alasan.
    Awalnya kukira dia cuma sekadar senang berteman. Terlebih ada cincin belah rotan di jari manisnya. Jadi, kupikir dia laki-laki bahagia tanpa masalah keluarga, sedangkan aku adalah wanita yang mengiri kepada istrinya. Setelah bercangkir-cangkir kopi kami minum bersama, terungkap ada yang nyaris runtuh. Restu orang tua yang sampai kini tak pernah datang seratus persen menjadi penyebab utama dan kemudian merembet ke hal remeh-temeh yang jadi meraksasa. Tak pernah ada yang terasa benar.
Pernikahan mereka menjadi sangat dingin atau malah panas mendadak secara ekstrem. Jurang terbentang. Sang istri mengambil keputusan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Malang, membawa serta Bulan. Sementara dia bertahan di rumah mereka. Suami-istri itu kini berjarak Sidoarjo – Malang. Tapi, itu bukan penyelesaian permanen. Cuma sekadar untuk menghindari adu mulut harian. Karena berjarak pun tak membawa perbaikan yang signifikan. Kalau sampai saat ini keduanya belum ada yang melayangkan gugatan cerai,Bulan-lah alasannya.
Status pernikahan bisa dibatalkan dengan satu ketukan palu. Tapi, kenyataan sebagai orang tua adalah hal yang tak dapat dihapuskan. Masing-masing akan mengklaim sebagai pihak yang paling pantas mendapatkan hak asuh, sementara seorang Bulan tak dapat dibelah dua sama rata.
    Aku tak tahu pasti apakah aku merasa terganggu dengan status Pandu yang mengambang itu. Yang jelas, aku sadar betul dia bukanlah laki-laki yang erat terikat tali perkawinan dengan istrinya, tapi juga bukan laki-laki bebas merdeka.  Karenanya, sah-sah saja jika dia selalu bergegas-gegas ke Malang karena tak tahan rindu kepada anaknya. Hal itu sama sahnya dengan ketika dia menghabiskan jam-jam luangnya bersamaku. Aku tak cukup merasa risi, tak juga merasa ada yang salah.
    Selepas ciuman pertama kami, kalimat yang diucapkannya adalah, “Maukah kau menungguku menyelesaikan semua hal dengan Dahniar?”
    Kumengerti jelas arti 'menyelesaikan' dalam kalimatnya. Itu serupa janji yang akan dibayarnya suatu hari nanti. Aku tidak sedang dikejar umurku. Dan bukankah cinta sering kali harus menunggu?
*     
    Kami hampir masuk Kediri ketika teleponku menjerit. Pandu memanggil. Sudah kuperkirakan sejak tadi, karenanya ear phone  sudah bertengger di telingaku.
    “Ara, ada di mana?”
    Suaranya terdengar menahan jengkel. Memang minggu ini dua kali aku menggagalkan janji pertemuan. Dan semalam aku membuat dia dua jam termangu di teras rumahku sebelum akhirnya bertemu. Semalam aku membuat acara jalan-jalan yang tak perlu ke Surabaya bersama Saras.
    “Ehmmm Kediri rasanya. Maaf, aku tadi hendak meneleponmu, tapi kupikir kau masih tidur karena katamu akan begadang menyelesaikan program itu semalam. Aku jadi berangkat ke Semarang, tapi mampir dulu ke Tulungagung. Menginap satu atau mungkin dua malam. Baru kemudian lanjut lagi. Mungkin Rabu aku baru pulang.”
    “Hei, ada masalah apa sebenarnya? Kau sulit ditemui akhir-akhir ini, Ara. Kenapa?”
    “Tenang, tidak ada masalah besar. Aku cuma sedang memikirkan sesuatu. Nanti juga akan kuceritakan kepadamu.”
    “Ara....”
    “Hei, aku sedang mengemudi sekarang. Bisa kutelepon lagi nanti?”
    Pandu tak pernah suka bertelepon saat mengemudi. Memecah konsentrasi, begitu katanya selalu. Karena itu, dia menyerah dan menutup teleponnya. Dan perjalananku aman tanpa teleponnya lagi sampai kami tiba di rumah Lestari. Ehmmm  .... aku harus menyebutnya begitu sekarang.
    Mak Darti sudah menunggu kami. Juga sudah memasak istimewa. Kuamati tingkah Ratri dan Diah sejak mereka turun tadi. Tidak ada ekspresi yang lebih. Mungkin Lestari tidak bercerita apa-apa tentang rumah ini. Dan, jika aku langsung menuju kamar tidur yang memang sejak dulu menjadi tempatku, maka Lestari langsung berjalan lurus ke belakang, menuju rumah belakang. Kedua anak buahnya mengikuti. Lalu ada sedikit ribut di halaman belakang. Lestari mencari pohon mangganya.
    “Tempo hari hujan deras sekali, Mbak. Ada angin kencang pula. Lalu pohon itu tumbang. Mungkin karena sudah terlalu tua. Untung tidak mengenai rumah. Jadi, saya panggil Pak Sastro untuk memotong dan membersihkannya. Saya lupa bercerita waktu Mbak Lestari telepon tempo hari.”
    Lestari tampak kehilangan, seakan pohon itu bagian dari hidupnya.
    “Sudah ada penggantinya, ‘kan?” Kutunjuk pohon mangga pengganti yang tingginya masih semeter.
    Dia tertawa. “Saksi bisu kenakalan kita sudah mati, Mbak.”
    “Kenakalanmu kan maksudnya? Dulu kau lebih nakal dariku.”
    “Wooo ..... enak saja! Dulu Mbak yang jadi pemimpin. Aku cuma mengikuti. Ingat dulu Ibu selalu harus memaksa untuk membuat Mbak turun dari pohon itu.”
    Aku nyengir kuda. Dia benar. Toh, dia masih balita waktu itu, jadi praktis apa yang dilakukannya lebih banyak karena mengikutiku. Sebenarnya, aku tak yakin dia ingat, tapi ternyata ada satu dua hal yang bisa dia ceritakan tentang masa itu.
    Malamnya kupaksa dia tidur di kamarku. Ratri dan Diah sudah lebih dulu menempati kamarnya di rumah belakang. Kamar Mak Darti ada di halaman belakang juga. Kalau dia ikut tidur dengan Ratri dan Diah, berarti    cuma aku yang ada di rumah depan. Jadi, kutarik dia ke kamarku.
    “Kau tidak pernah tidur di sini. Ini sudah jadi rumahmu. Jadi, dia berhak untuk merasakan kau tinggali. Lagi pula, tak sopan kan membuat dua tamumu itu tidur berdesakan?”
    “Ah, Mbak pandai beralasan!”
    Tapi, dia setuju berpindah kamar.
    Aku sedang memikirkan apa yang dilakukan Pandu sekarang ketika dia menyentuh bahuku.
    “Mbak ….”
    “Ya?”
    “Ehmmm …  apakah kalian bertiga benar-benar bermaksud membeli rumah ini?”
    Ahhh …  tak kusangka dia akan mengajakku berbicara tentang rumah ini justru ketika lampu kamar sudah kumatikan dan kupikir masing-masing kami sudah siap untuk tidur.
    “Hanya jika kau berniat menjualnya. Tujuannya cuma agar tak jatuh ke tangan orang lain. Itu saja. Alasan yang sentimentil sebenarnya.”
    Kudengar  embusan napasnya sebelum dia berbicara lagi.
    “Bagaimana jika aku bahkan tidak menjualnya?”
    Aku tidak bisa membaca arah perkataannya.
    “Tentu tak masalah. Toh, ini sudah jadi milikmu. Kau boleh memilikinya selama yang kau inginkan. Cuma seharusnya kau membuat satu rencana untuk rumah ini.”
    “Maksudnya?”
    “Aku pribadi berpendapat rumah ini sudah terlalu lama dibiarkan kosong. Kau bayangkan sebesar ini cuma ada Mak Darti yang meninggalinya. Jujur, aku lebih suka jika rumah ini benar-benar berfungsi sebagai rumah. Ada keluarga yang tinggal di dalamnya. Bukan cuma segelintir Mak Darti yang juga sudah mulai renta itu. Jadi tak suwung (kosong) seperti sekarang. Tapi, itu tentu saja terserah kau.”
    “Sebenarnya aku berencana untuk menyewakan rumah belakang. Atau, kalau tidak, ya, dibuat rumah kos. Biar Mak juga ada temannya. Toh, aku juga belum mungkin untuk meninggalinya.”
    “Bagus. Tapi kenapa cuma rumah belakang saja? Atau kau sengaja menyisakan rumah depan agar Mak Darti tak kehilangan pekerjaan? Jangan khawatir, Mama pasti akan mengambil Mak Darti. Kau tahu, istri Mas Andi sedang hamil. Begitu bayi itu keluar, tentu akan dibutuhkan pengasuh untuknya.”
    “Bukan begitu. Maksudku, rumah depan ini untuk kita pulang.”
    Aku agak sangsi dengan pendengaranku. “Kita?”
    Samar-samar kulihat dia mengangguk dalam gelap.
    “Ya, kita. Aku,  ibuku, Mbak, Mbak Fira, Mas Andi,  ibu Mbak … siapa saja dari kita. Mungkin suatu saat nanti kita bisa pulang ke sini bersama-sama. Siapa tahu?”
    Ehmmm...  aku bahkan tak pernah membayangkan itu. Mungkinkah?
    “Mbak, aku tak pernah membayangkan akan terhubung kembali dengan Bapak, Ibu, Mbak, Mbak Fira, dan Mas Andi. Makanya, aku kaget sekali ketika Bapak memanggil setelah bertahun-tahun tak pernah berhubungan, apalagi bertemu. Rasanya seperti hadiah yang langsung dikirim dari langit.” 

Cerita Selanjutnya  >>>>

Penulis: Ina Binanti Alasta


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?