Fiction
Terdakwa [4]

27 May 2012


<<<  Cerita Sebelumnya

Peristiwa-peristiwa lain berjalan sebagaimana mestinya. Pemakaman Leonard, misalnya. Pidato pendeta yang membosankan, tangis Gloria yang meraung-raung. Di pemakaman helikopter pers yang terbang terlalu rendah menerbangkan rok Gloria hingga ke atas lutut. Keesokan harinya terpampang fotonya itu di surat kabar. Ada banyak foto Gloria. Foto-foto masa lalunya sebagai model dengan pakaian renang, juga saat makan malam dengan gaun mewah dalam pelukan pengacaranya. Kesempatan emas untuk kariernya dan ia memanfaatkannya. Sebagian juga merupakan usaha mendapatkan uang Leonard. Ia mengajukan tuntutan untuk mendapat sebagian warisan yang jatuh kepadaku dan ia berusaha agar publik mendukungnya. Tetapi pengadilan tak memenuhi tuntutan itu dan akhirnya Bob Winchell berhasil mengusahakan agar Gloria mendapat seperempat juta dolar.

Aku menolak interviu. “Biar Gloria saja yang muncul di televisi seperti orang tolol,” kata Bob. “Kau istri yang baik dan setia, dan kau masih berduka-cita.” Kami sepakat, aku harus berperan demikian. Aku memang banyak menangis, walau aku tak tahu apakah tangisku itu untuk Leonard atau bukan. Sebentar lagi sidang dimulai. Memalukan dan menakutkan.

Sidang pun dimulai. Begitu banyak wartawan, lebih daripada biasanya. Perutku terasa mulas. Inilah saatnya. Sementara Bob dan penuntut berdebat dengan juri, aku duduk mendengarkan. Sesekali kulirik arlojiku.

Bagaimana mungkin seseorang bisa merasa jemu dengan sidang yang akan menentukan hidupnya?

Segalanya berubah ketika Durkheim mulai bersaksi.

Di mimbar saksi, pundaknya naik turun di balik jas murahannya, terlihat sama seperti ketika ia memasuki rumahku. Berbahaya dan berbisa.

“Pertama kali ia menelepon kira-kira tanggal 5 Juni,” katanya. “Seminggu sebelum pembunuhan. Katanya ia dapatkan nomorku dari majalah Adventurer. Aku pernah memasang iklan di sana.” Suaranya terdengar berat. “Ia memintaku membunuh suaminya, Leonard Pearson. Aku pun setuju.”
Penuntut pun mengajukan pertanyaan. “Kau setuju dengan bayarannya?”

“Semula kami sepakat, ia akan membayarku 25.000 tetapi keesokan harinya ia menelepon, katanya ia hanya punya 21.000, dan aku pun setuju.”

“Apakah kau bicara dengan wanita itu lagi?”

“Ya, sehari sebelum pembunuhan, ia menelepon untuk menjelaskan bagaimana pembayarannya.”

Sejenak sepi, penuntut memutar rekaman telepon sebagai bukti. Aku duduk tegak, menatap Durkheim. Perlahan aku menoleh ke arah para juri yang mendengarkan dengan penuh rasa penasaran. Bisa-bisa mereka mempercayainya. Bisa-bisa mereka menyimpulkan bahwa semua itu benar. Dan kemudian mengikatku dan memberikan suntikan yang mematikan itu, yang mencabut nyawaku.

“Bagaimana pembayaran itu dilakukan?”

“Katanya ia akan menaruhnya di stasiun lama, di tempat surat kabar. Ia membayar setengahnya dahulu, sisanya setelah selesai dilakukan. Jadi aku tak melihatnya.”

“Jelaskan, Mr. Durkheim,” kata jaksa. “Apakah prosedur transaksi memang demikian?”

“Tidak, seperti … seperti di televisi,” kata Durkheim. “Dia tak mau menyerahkan langsung uangnya ke tangan saya. Sebetulnya saya tak suka cara ini karena saya kan tak tahu siapa dia. Bagaimana saya bisa yakin kalau ia akan membayarkan sisanya? Atau, bagaimana kalau ternyata dia polisi? Itulah yang saya khawatirkan.”

“Lalu, apa yang Anda lakukan, Mr. Durkheim?”

“Saya mengintainya di stasiun, malam sebelumnya. Dan memang benar, sekitar pukul 2 dini hari ada mobil bagus mendekat. Saya curiga, mungkin inilah orangnya. Mobil berhenti, pengemudinya turun. Ia menuju tempat surat kabar dan meletakkan kantung di situ. Kemudian ia kembali ke mobilnya dan pergi.”

“Apa yang selanjutnya Anda lakukan, Mr. Durkheim?”

“Saya ikuti dia,” kata Durkheim. “Pulang ke rumahnya.”

“Apakah Anda mencatat mobil dan nomor polisinya?”

“Ya, saya mencatatnya di buku catatan.” Buku itu sudah dijadikan barang bukti, penuntut menyodorkannya kepada Durkheim dan iapun membaca. “Mercedes berwarna cokelat dengan nomor polisi 300CE Jersey PUL-972.”

Itu mobilku, nomor polisi mobilku.

“Dan di mana alamatnya?”

“1163 Palisades,” katanya.

Alamatku.

Ini berlangsung berhari-hari. Durkheim menceritakan secara rinci bagaimana ia membunuh Leonard, bagaimana ia menembak dan bagaimana buku Leonard terjatuh dari tangannya. Diceritakan juga bagaimana ia bersusah payah melepas cincin dari jarinya. Kemudian diceritakan pula tentang kedatangannya ke rumahku dan ancaman yang dilontarkannya. Begitu bangga. Akhirnya ia bercerita tentang penangkapan dan mengapa ia memutuskan untuk mengakui perbuatannya agar ia bebas dari hukuman mati.

Kemudian giliran Bob Winchell mengajukan pertanyaan. Ia mendesak agar Durkheim mengakui bahwa ia tak pernah benar-benar melihat wajah wanita yang mengemudikan mobilku. “Bisa saja orang lain, kan?” teriak Bob. Tetapi Durkheim menggelengkan kepala dan memandangku. “Tidak. Memang dia orangnya.”

Namun sesuatu berubah dalam diriku. Aku sadar, semua ini kejadian nyata. Aku pun bangkit, harus bertindak! Harus kuhentikan semua ini!

Malam itu, aku berjalan mondar-mandir di dalam rumah, memikirkan apa yang harus kulakukan. Aku harus, aku harus ….

Tiba-tiba muncullah hal yang sangat konyol dalam pikiranku.
Kudatangi rumah Durkheim. Alamatnya disebutkan di surat kabar, lengkap dengan gambar rumahnya

Aku mendatanginya suatu malam setelah sidang. Aku ingin bicara dengan Amelia. Kupikir dialah satu-satunya yang bisa berbicara dengan Durkheim. Aku harus bertindak.

Di depan pintu tertulis Keluarga Durkheim. Ditengah pintu dipasang kupu-kupu keemasan. Kupegang pelan-pelan kupu-kupu itu dan bel pun berbunyi. Terdengar langkah-langkah mendekat. Disibakkannya gorden untuk melihat siapa yang datang. Sejenak kemudian pintu dibuka.

Amelia Griffin menodongkan pistol di sisi hidungku.

“Brengsek,” katanya, “kubunuh kau.”

Ia menggiringku masuk ke dalam rumah dan membanting pintu. Darah mengucur dari hidungku. Kutelungkupkan tanganku di hidung dan darah pun mengalir ke telapak tanganku.

Kami berdiri di bawah lampu yang bergantung di langit-langit. Ia berdiri di belakangku. Aku sedikit menoleh.

“Bisa minta tisu?”

“Diam, brengsek. Kubunuh kau. Kalau kubilang kau mendobrak masuk ke rumahku, orang akan percaya.”

Darah mengalir ke daguku.

“Masuk,” perintahnya.

Diarahkannya senjata tadi ke ruang duduk. Samar-samar terlihat sofa bermotif bunga, sesuai dengan kursi di sampingnya. Sekali lagi ia mengayunkan senjatanya, “Sebelum kubunuh kau, mau apa kau kemari?”

“Aku mau bicara denganmu,” jawabku. “Aku berdarah.”

“Mau bicara apa? Ayo cepat sebelum kubunuh kau.”

“Aku ingin tahu, kenapa suamimu, Mr. Durkheim mengatakan bahwa aku menyuruhnya, padahal tidak?Ia tertawa keras. Aku melirik senjata di tangannya. Ajaib, aku sama sekali tak merasa takut. Sidang-sidang yang menakutkan itu sudah membuatku kebal.

“Kau tak tahu,” katanya berat. “Aku tahu di mana kau tak bisa berdiri tegak di rumahmu sendiri sementara lalat merayapimu dan kami makan lempung ketika bayi lahir. Lempung!”




Penulis: Andrew Klavan




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?