BizNews
Ini Dampak Pandemi COVID-19 Pada UMKM di Indonesia dan Amerika Latin

28 Oct 2020


Dok. Pexels



Dalam rangka memperingati FEALAC (Forum for East Asia - Latin America Cooperation) Day, Femina bersama Kementerian Luar Negeri RI mengadakan webinar bertajuk Enhancing Women Entrepreneurship in The Midst of COVID-19 : Stories from Indonesia & Latin America. Webinar yang diadakan pada Jumat, 16 Oktober 2020 lalu ini membicarakan tentang perkembangan dunia wirausaha yang digerakkan oleh wanita di kawasan Asia Timur dan Amerika Latin pasca COVID-19. 

Menurut data ILO bahwa pada awal pandemi COVID-19 di bulan Maret - April, sekitar 70 persen UMKM berhenti produksi. Sedangkan menurut survei Bank Indonesia (BI) pada Juni 2020 menunjukkan sebanyak 72,6% pelaku UMKM mengalami penurunan penjualan, kesulitan bahan baku, dan kesulitan permodalan selama pandemi.

"Kita paham bahwa pandemi COVID-19 membawa perubahan yang dramatis. Teman-teman yang sudah berbisnis tentu paham, bahwa semuanya terdampak, apalagi UMKM. Namun diharapkan melalui kegiatan ini, bisa mendukung UMKM agar mampu bersaing secara efektif dan efisien baik di pasar domestik maupun internasional pasca COVID-19," papar Masni Eriza, Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri RI, saat membuka acara.

Ditambahkan lagi olehnya bahwa FEALAC, sebagai organisasi internasional yang menjadi wadah bagi negara-negara Asia Timur untuk saling terhubung dan bekerja sama dengan negara-negara di Amerika Latin, diharapkan kegiatan ini dapat menginspirasi para pelaku usaha agar dapat bangkit bersama pasca pandemi COVID-19. 

Istafiana Candirini, CEO dan Co-founder KAMI, mengatakan bahwa pandemi turut berdampak pada bisnis busana muslimnya. Terlebih lagi, busana bukanlah produk kebutuhan utama di masa pandemi, sehingga turut memengaruhi penjualan produknya.

"Kalau biasanya memasuki bulan lebaran kita bisa membuat 4-5 koleksi, tapi yang kita lakukan hanya menjadikan 2 koleksi saja. Walau koleksi hanya dua, namun alhamdulillah secara penjualan masih terbilang aman," cerita wanita yang akrab dipanggil Irin ini.

Memasuki masa pandemi, KAMI telah aktif melakukan mitigasi penjualan secara online dengan masif. Di lain sisi, Irin juga melakukan pivot bisnis dengan membuat masker demi memenuhi kebutuhan masker di masyarakat, dengan koleksi #KAMIMask yang menggunakan teknologi HEIQ Viroblock, yang dipercaya dapat membunuh bakteri dan virus. 

Dampak pandemi juga turut dirasakan oleh Swasti Adicita Karim, Co-founder Java Fresh, eksportir buah premium khas Indonsia. Jika sebelum pandemi Java Fresh menjual produk ke pasar internasional, maka kini justru mulai melakukan pemasaran di tanah air.

Diceritakan oleh Swasti bahwa awal-awal pandemi, kebijakan di sejumlah negara sangat ketat, yang memberlakukan lockdown hingga tak boleh ada pesawat masuk dan keluar dari negara tersebut. Hal ini pun menyulitkan Java Fresh untuk melakukan pengiriman keluar, sekaligus menyebabkan biaya yang sangat mahal. 

"Di satu sisi udah mau mulai lebaran, kasihan petani kita yang tidak bisa menjual buah-buahannya. Akhirnya kita cari cara untuk bisa membantu mereka, yaitu dengan memasarkannya di pasar lokal," papar Swasti. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat yang lebih mengedepankan konsumsi makanan sehat, turut membantu Java Fresh dalam memasarkan produk buah-buahannya di dalam negeri.



Di benua yang jauh dari Indonesia, Duta Besar RI untuk Argentina, Niniek Kun Naryati, menjelaskan bahwa pandemi turut memengaruhi perekonomian di Argentina. 

Sekitar 19% penduduk (8,5 juta orang) adalah pekerja informal (pekerja domestik, buruh bangunan, buruh tani, pedagang kaki lima). Selain itu, lebih dari 1.200 resto dan kafe gulung tikar dan 8.000 lainnya terancam tutup.

Kendati pandemi memukul hampir semua lini wirausaha di Argentina, namun menurut Niniek pandemi justru bisnis online menggeliat aktif.

"Walau sekarang ada krisis ekonomi, namun semua pelaku usaha jadi aktif jualan online. Aktivitas jual beli online di marketplace-marketplace nominalnya sangat besar," ceritanya.

Di tengah pandemi COVID-19, pendapatan penjualan bisnis online di Argentina meningkat sampai 84%. Pandemi mengubah kebiasaan konsumen di Amerika Latin. Pembeli online untuk pertama kalinya telah melonjak tajam. 

MercadoLibre Inc, pasar e-niaga terbesar di kawasan, mendapat 1,7 juta pelanggan baru dari 24 Februari hingga 22 Maret, naik 28% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Baik kondisi yang dialami di Indonesia maupun Argentina menunjukkan bahwa kendati pandemi memberikan tantangan yang berat bagi para pelaku usaha, bukan berarti harus menyerah pada keadaan. Sebaliknya, ketangguhan dalam menghadapi tantangan itu perlu dimiliki oleh para pelaku usaha untuk bisa bertahan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. (f)



BACA JUGA :
Pertemuan Prana Group Dengan Pengurus Pusat Bhayangkari R.I Untuk Pemberdayaan Wanita
Dukung Pemberdayaan UMKM Wanita, Bhayangkari Gelar Bazar Online Bersama Femina
Masa Krisis Akibat COVID-19 Masih Berlangsung, Coba Evaluasi Kinerja Bisnis




 


Topic

#wanitawirausaha, #wanwir, #corona, #newnormal

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?