Career
Memasuki Era New Normal, Ini 7 Adaptasi Skill yang Perlu Dilakukan Praktisi PR

22 Jul 2020


Dok. Istimewa



Hampir semua lini kehidupan terpengaruh oleh hadirnya pandemi COVID-19. Tak terkecuali dunia public relation (PR) dan komunikasi yang turut berubah akibat virus corona ini. Segala pekerjaan harus dilakukan secara jarak jauh, sehingga kemampuan untuk menggunakan teknologi pun menjadi mandatori saat ini. 

Jika biasanya komunikasi tatap muka menjadi salah satu kekuatan dalam ilmu kehumasan, sontak  harus tergeser dengan keadaan yang tak memungkinkan banyak orang untuk bertemu. Hal ini pun, mau tidak mau, membuat praktisi PR sebagai komunikator perlu memperbaharui kemampuan berkomunikasi dan mengolah pesan yang dibawanya. 

Untuk memetakan apa saja kemampuan yang perlu dimiliki oleh para praktisi PR dalam memasuki fase kenormalan baru ini, Femina berbincang secara virtual bersama Sari Soegondo (Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia), Rika Mayarasari (Founder R&R Public Relations) dan Mayang Schreiber (Independent Senior Advisor PR Consulting).

Dalam virtual talkshow bertajuk Adaptasi Skill untuk Praktisi PR di Era New Normal ini pun dapat diketahui beberapa skill yang perlu dimiliki oleh para praktisi PR dalam menghadapi perubahan situasi dan kebutuhan.

1. Crisis Communication
Kondisi pandemi ini menjadikan kemampuan komunikasi menghadapi krisis menjadi sangat krusial. Pasalnya memang, banyak perusahaan yang atau instansi yang menghadapi krisis massal dengan berbagai penyebab, sehingga membutuhkan bantuan para praktisi PR untuk mengomunikasikan hal ini pada audiens. 

"Kita harus tahu strategi bagaimana punya solusi komunikasi yang baik untuk menyelesaikan business problem. Bukan hanya optics-nya saja untuk kelihatan bagus, tapi apakah apa yangkita lakukan bisa menyelesaikan business problem yang ada," tutur Mayang yang memang sudah berkecimpung di bidang crisis communication sejak lama.

Hal yang menurut Mayang juga perlu dipahami oleh para praktisi PR adalah tentang crisis preparedness. Yaitu menyiapkan suatu perusahaan untuk menghadapi krisis di masa depan. Mulai dari menyiapkan crisis manual, hingga crisis response team. Sehingga ketika terjadi krisis, mereka tahu apa yang harus dilakukan dan tidak panik dalam menghadapinya. 

Melihat situasi pandemi ini, menurut Rika Mayasari, permintaan atas jasa komunikasi menghadapi krisis akan semakin banyak. Ini pun bisa menjadi peluang yang manis bagi para praktisi PR untuk bisa menguasai kemampuan ini. 

2. Kemampuan Bernegosiasi
Seperti yang disampaikan oleh Rika Mayasari, bahwa terkadang tantangan juga hadir dalam relasi dengan klien yang mengaharapkan sesuatu dikerjakan dengan cepat. Dalam menghadapi situasi ini, kemampuan negosiasi pun jadi krusial. 

"Kemampuan bernegosiasi menjadi sangat penting, tapi tentunya dengan cara yang humble. Jangan terlalu mengakomodir semua dan memaksakan kehendak, maka kemampuan negosiasi dan consultancy kita harus jalan," ujar Rika.

Hal ini juga diamini oleh Mayang Schreiber yang mengatakan bahwa sebagai praktisi PR juga harus bisa meyakinkan klien tentang apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan.  

3. Kolaborasi dan Kerja Sama 
Seperti yang diingatkan oleh Sari Soegondo bahwa pandemi COVID-19 membuat para praktisi PR memiliki sensitivitas yang lebih tinggi sehingga mendorong sesamanya untuk berkolaborasi. 

"Di kondisi seperti saat ini, solidaritas dan kolaborasi jadi sangat penting. Teman-teman sesama praktisi PR tidak lagi malu untuk saling sharing inovasi, lebih senang untuk survive bersama-sama ketimbang takut inovasinya dicontek oleh orang lain," jelasnya.

Ini juga dipaparkan oleh Mayang bahwa kerja sama menjadi poin yang tak boleh dilupakan, terutama bagi PR independen.

"Walau kita bekerja sendiri (independen) bukan berarti tidak bekerja dengan orang lain. Justru kita harus bisa bekerja dengan lebih banyak orang."



Lanjut ke halaman berikutnya.



BACA JUGA :
Apa yang Dimaksud dengan New Normal di Lingkungan Kerja?
Investasi pada Teknologi, Cara Agar WFH Tetap Nyaman dan Produktif
Rapat Terus Menerus Tak Akan Jadi Produktif. Berikut Tip Mengatur Rapat Lebih Efektif



 


Topic

#PR, #corona, #newnormal

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?