Family
Pandemi COVID-19 dapat Memperburuk Kondisi Jiwa Orang dengan Demensia. Ini Cara Tepat Merawatnya

15 Sep 2020


Dok. Unsplash



Terjadi pertumbuhan yang pesat pada jumlah orang yang hidup dengan Alzheimer. Dan ternyata, hanya sekitar satu dari empat orang dengan penyakit tersebut yang didiagnosis. 

Diperkirakan, ada sekitar 44 juta orang di seluruh dunia yang hidup dengan penyakit Alzheimer atau dengan demensia. Memang kebanyakan orang yang hidup dengan penyakit ini berusia di atas 65 tahun ke atas, namun tak jarang juga yang mengidapnya lebih muda atau Alzheimer dini. 

Sebenarnya jika diperhatikan secara seksama, Demensia Alzheimer diawali dengan gejala gangguan penurunan fungsi otak yang mempengaruhi emosi, daya ingat, dan pengambilan keputusan seseorang atau biasa disebut pikun. Kondisi ini pun perlu diwaspadai oleh diri sendiri atau orang di sekitarnya, karena lambat laun dapat mempengaruhi kehidupan sosial seseorang, bahkan membawa dampak terhadap kepribadian mereka.

“Orang dengan Demensia (ODD) kerap mudah lupa, sulit fokus, disorientasi, hingga memiliki gangguan berkomunikasi. Hal ini dapat memengaruhi keadaan jiwa dan pikiran. Dengan mengenali gejala-gejala umum, kita dapat mendapatkan gambaran deteksi dini dan penanganan kasus demensia Alzheimer lebih awal, seperti memahami bagaimana secara tepat merawat orang dengan demensia (ODD), hingga meminta bantuan profesional atau paid caregivers,” ujar Trainer Dementia Care & Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), Azam David Saifullah, BSN, MSc

Bagi ODD, pandemi COVID-19 dapat memperburuk kondisi mereka. Pasalnya, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membuat mereka harus di rumah saja atau lebih jarang bertemu orang lain, dapat meningkatkan rasa kesepian, cemas hingga depresi yang memengaruhi suasana hati dan memperburuk kondisi jiwanya. 

Lantas bagaimana harus menangani ODD di masa pandemi ini, agar kondisi mereka tidak memburuk? 

Sri Mulyani, BSN, MNg, trainer Dementia Care & Dosen Universitas Gadjah Mada menekankan pentingnya kontribusi seluruh pihak dalam merawat ODD untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan caregivers. 

“Tidak hanya memperhatikan asupan gizi yang seimbang, kita perlu menciptakan lingkungan dan suasana positif di sekitar ODD. Kunci dari merawat ODD adalah berkomunikasi secara verbal dan non verbal, serta melakukan kegiatan-kegiatan aktif dan positif. Tindakan tersebut akan membantu ODD jauh dari rasa kesepian, terabaikan, bahkan terkucilkan” jelas Sri.

Berikut, tip merawat ODD di masa pandemi : 

1. Membangun komunikasi yang sesuai dengan keadaan ODD dengan memperhatikan bahasa verbal dan non verbal yang digunakan. 

2. Menggunakan tanda-tanda visual untuk membantu komunikasi seperti penggunaan gambar, arahan, dan sebagainya.

3. Memahami perilaku yang sulit pada ODD dan tidak melihatnya sebagai batasan untuk berkomunikasi.

4. Tindakan saat terjadi perilaku yang menyulitkan akibat demensia.



BACA JUGA :
Dampak Pandemi COVID-19 : Milenial Kembali Tinggal dengan Orang Tua
Cara Agar Bahagia di Hari Tua
Penderita Demensia di Indonesia Berpotensi Meningkat, Cegah dengan Pola Hidup Sehat Sejak Muda


 


Topic

#corona, #demensia, #newnormal, #orangtua

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?