Family
Hati-Hati, 62 Persen Anak Mengalami Kekerasan Verbal oleh Orang Tuanya Selama Pandemi COVID-19

23 Jul 2020


Foto: Pexels

 
Setiap tanggal 23 Juli kita merayakan Hari Anak Nasional. Tahun ini hari anak harus diperingati di tengah pandemi COVID-19. Karena itu, penting untuk mencermati ragam pengaruh yang timbul pada anak dalam masa adaptasi kebiasaan baru.

Krisis COVID-19 berdampak pada sebagian besar aktivitas masyarakat termasuk pada kelompok terkecil yaitu keluarga dan anak. Perubahan pada aktivitas sehari-hari bagi anak tidak hanya berdampak pada aspek fisik mereka saja, namun juga pada aspek kesehatan jiwa karena perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam waktu yang cukup cepat.

Ali Aulia Ramly, Pemerhati Kesehatan Jiwa Anak The United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF), mengatakan bahwa pembatasan sosial yang diterapkan oleh pemerintah untuk mencegah potensi penularan virus COVID-19 memberi dampak signifikan bagi anak.

Pembatasan sosial timbulkan rasa takut berlebihan pada anak karena banyaknya informasi yang mereka terima tentang pandemi. Selain itu, pembatasan sosial juga membuat anak merasa bosan karena harus berdiam diri di rumah dan tidak bisa berinteraksi dengan teman-temannya.
 
“Tentu saja kebosanan terjadi ketika mereka harus berada di rumah dengan waktu yang sangat lama. Tidak bisa bertemu teman-temannya ini  merupakan sejumlah dampak yang wajar dan banyak terjadi pada anak.kita harap begitu banyak anak akan bisa pulih dan melihat kembali bagaimana mereka tidak terganggu situasinya dalam keadaan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Dr.dr.Fidiansjah, SpKJ., MPH, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan turut memaparkan data dari Wahana Visi Indonesia tentang Studi Penilaian Cepat Dampak COVID-19 dan Pengaruhnya Terhadap Anak Indonesia.

Data tersebut menunjukkan bahwa terjadi ketidakmerataan akses terhadap fasilitas pendukung untuk pembelajaran daring maupun luring yang dialami pada anak yang sudah masuk usia sekolah. Sebanyak 68 persen anak dapat mengakses terhadap fasilitas pendukung selama masa pembelajaran namun juga terdapat 32 persen anak bahkan tidak mendapatkan program belajar dalam bentuk apapun.

"Dampaknya anak harus mempunyai sistem belajar sendiri dan 37 persen anak tidak bisa mengatur waktu belajar, lalu 30 persen anak kesulitan memahami pelajaran, bahkan 21 persen anak tidak memahami instruksi guru," jelas Fidiansyah.
 
Pandemi juga berdampak kepada aspek psikososial anak di antaranya adalah perasaan bosan karena harus tinggal di rumah, khawatir tertinggal pelajaran, timbul perasaan tidak aman, merasa takut karena terkena penyakit, merindukan teman-teman, dan khawatir tentang penghasilan orangtua. Dampak paling membahayakan adalah sebanyak 62 persen anak mengalami kekerasan verbal oleh orang tuanya selama berada di rumah.

Sejalan dengan data yang dipaparkan Fidiansyah, Aulia mengungkapkan bahwa kekerasan pada anak memang sudah terjadi di Indonesia bahkan sebelum adanya pandemi COVID-19. 

“Pada dasarnya jumlah kejadian kekerasan pada anak di Indonesia memang tinggi dan itu mengkhawatirkan,” ungkap Aulia.

Contoh konkret kekerasan pada anak secara emosional adalah merendahkan kemampuan anak dalam belajar dan menerapkan pola mendisiplinkan anak yang tidak tepat seperti memberikan hukuman dan sanksi yang bagi sebagian orang tua dilakukan untuk bangkitkan semangat anak.

Aulia menjelaskan bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam membantu masyarakat, orang tua, maupun anak untuk memahami apakah dia terdampak secara psikologis. Gejala-gejala umum seperti menurunnya semangat untuk menjalankan aktivitas, mudah marah, dan cepat kehilangan konsentrasi itu memang normal namun tetap harus diperhatikan jika terjadi secara berkepanjangan.

“Jangan lupa bahwa ketika kita ingin mendukung anak, kita juga harus memperhatikan kesehatan jiwa orang tuanya, membantu mereka memahami diri sendiri, bisa memilih cara menangani, dan cara untuk mendapat pertolongan,” tegasnya.

Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan akan berkolaborasi dengan UNICEF dalam berbagai upaya untuk menjaga kesehatan anak secara mental maupun fisik, salah satunya mempertahankan imunitas.

"Imunitas penting dalam konteks COVID-19, jangan sampai kesehatan jiwa anak turun, kemudian mengganggu imunitas yang dibutuhkan dalam masa sekarang ini," tutur Fidiansyah. 

Fidiansyah mengungkap slogan "Atasi COVID dengan CERDIK CERIA" untuk kampanye antisipasi COVID-19 kepada keluarga dan anak. CERDIK merupakan singkatan dari cek kondisi kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori, istirahat yang cukup, dan kendalikan stress.

Sedangkan CERIA merupakan singkatan dari cerdas intelektual emosional dan spiritual, empati dalam berkomunikasi efektif, rajin beribadah sesuai agama dan keyakinan, interaksi yang bermanfaat bagi kehidupan, dan asah asih asuh tumbuh kembang dalam keluarga dan masyarakat.(f)



BACA JUGA:
Milenial, Generasi Paling Tidak Optimis Pada Kondisi Ekonomi Dalam Krisis COVID-19
Bisnis Berdampak Sosial Lebih Disukai, Ini Manfaatnya Bagi Bisnis Anda
Mendikbud, Nadiem Makarim, Wacanakan Pembelajaran Jarak Jauh Permanen Usai COVID-19. Setujukah Anda?
 

 

 



Topic

#newnormal, #corona, #harianaknasional, #kesehatanmental

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?