Health & Diet
Ini Hal yang Perlu Diketahui Saat Merawat Pasien Kanker di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

21 Jul 2020


Foto: Unsplash



Pandemi COVID-19 berdampak pada seluruh aspek kehidupan sehari-hari begitupun pada layanan kesehatan kanker. Diperlukan pemahaman yang tepat dan relevan tentang rekomendasi dan alur perawatan pasien kanker dalam masa adaptasi kebiasaan baru.
 
Salah satu contoh kanker yang membahayakan adalah kanker kepala dan leher. Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia akan diperingati pada 27 Juli mendatang. Kanker ini bisa terjadi pada wanita maupun pria dengan rasio kasus kanker pria banding wanita sebesar 2 : 1. 
 
Pada tahun 2020, angka kasus baru kanker kepala dan leher meningkat sebesar 883.000 jika dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu 634.000 kasus. Kanker kepala dan leher sangat memengaruhi kegiatan sehari-hari pasien seperti makan, minum, dan berbicara yang pada akhirnya mengganggu kehidupan sosial pasien.
 
Pasien kanker, termasuk kanker kepala dan leher, memiliki tingkat risiko paparan COVID-19 3,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang bukan kanker. Untuk itu, diperlukan pedoman tepat dalam pemberian pengobatan kanker yang aman bagi para pasien.
 
Terdapat sejumlah alasan yang menyebabkan pasien kanker rentan terhadap virus COVID-19, salah satunya karena masalah imunitas. Kekebalan tubuh yang rendah menjadikan pasien kanker rentan terinfeksi virus saat menjalani pengobatan.
 
“Oleh karena itu, sangat penting bagi pasien kanker untuk mencoba meminimalkan paparan terhadap virus dan disarankan untuk menerapkan praktik hygiene yang baik seperti rutin membersihkan tangan, menggunakan desinfektan untuk peralatan yang digunakan, hindari kontak langsung, dan jaga jarak,” ujar Prof. Dr. dr. Soehartati Argadikoesoema Gondhowiardjo, SpRad(K), OnkRad, Koordinator Pengembangan Pelayanan Kanker Terpadu (PKaT) RSCM.
 
dr. Soehartati juga menghimbau para tenaga medis untuk mengupayakan pedoman pelayanan dan metode pengobatan yang optimal pada pasien kanker, khususnya kanker kepala dan leher yang banyak didominasi oleh penderita stadium lanjut. Proses pengobatan harus sesuai dengan protokol pencegahan infeksi COVID-19.
 
Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B-Onk, M.Epid, MARS, dokter konsultan spesialis bedah onkologi (kanker) Rumah Sakit Medistra Jakarta, mengharapkan pasien aktif mengomunikasikan keluhan yang muncul kepada dokter sehingga perkembangan penyakit selalu terpantau.
 
“Pasien dapat berkonsultasi secara langsung maupun virtual apabila berada pada kondisi yang krusial. Adanya komunikasi antara ahli medis dan pasien akan menghasilkan langkah yang tanggap apabila pasien kanker positif terinfeksi COVID-19, seperti pertimbangan ulang terkait pengobatan kanker dan perawatan intensif COVID-19 sehingga menghindari komplikasi lebih jauh,” terangnya.
 
Sementara itu, Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum Cancer Information and Support Center (CSIS) menekankan pentingnya keberadaan support system untuk menyemangati para pasien kanker.
 
“Dukungan yang positif dari keluarga, sahabat, serta organisasi pasien kanker kepada pasien dapat membantu mereka tetap semangat dan positif selama masa pengobatan ataupun pemulihan,” pungkasnya.(f)
 

 

BACA JUGA:
Jangan Remehkan Penyakit Tuberculosis, Apa Perbedaannya Dengan COVID-19?
Mengenal Antibodi, Komponen Utama Pemeriksaan Screening COVID-19
Kebiasaan Baik untuk Kesehatan Jantung di Masa New Normal

 

 
 


Topic

#newnormal, #corona, #kanker

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?