Health & Diet
Penderita Demensia di Indonesia Berpotensi Meningkat, Cegah dengan Pola Hidup Sehat Sejak Muda

5 Sep 2020


Foto: Pexels

 
Demensia merupakan gejala penyakit yang menyebabkan penurunan fungsi otak. Sedangkan demensia alzheimer adalah gangguan penurunan fungsi otak yang mempengaruhi emosi, daya ingat, dan pengambilan keputusan seseorang dan biasa disebut pikun.
 
Suharya, Direktur Regional Alzheimer Asia Pasifik sekaligus Penggagas Yayasan Alzheimer Indonesia (ALZI) menyebut bahwa berdasarkan penelitian kolaboratif antara London School of Economics dan University College of London, secara global, sekitar 75% kematian pasien yang terpapar COVID-19 adalah orang dengan demensia sebagai penyakit penyerta (underlying condition).
 
“Usia merupakan faktor terbesar terkait dengan demensia, golongan lansia memiliki risiko paling tinggi terhadap paparan COVID-19, dengan 86% kematian terjadi pada golongan usia 65 tahun ke atas,” jelas Suharya.
 
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa kondisi pandemi COVID-19 yang berlangsung saat ini juga membuat banyak orang rentan akan kesepian, kecemasan, dan depresi, tak terkecuali orang dengan demensia (ODD) dan caregivers.
 
Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah mempengaruhi kondisi fisik dan mental masyarakat. Perubahan-perubahan sikap atau behavior changes yang diadopsi dalam situasi kebiasaan baru juga tampak pada peningkatan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan otak.
 
Menurut Dr. dr. Yuda Turana SpS., Ahli Syaraf dan Dekan UNIKA Atma Jaya, telah terjadi peningkatan jumlah orang yang bertanya seputar kesehatan mental dan kesehatan otak. Namun, kondisi pandemi COVID-19 membuat banyak di antaranya merasa kesulitan dan takut untuk datang ke rumah sakit dan berkonsultasi secara langsung.
 
”Meskipun beberapa rumah sakit sudah menyediakan pelayanan konsultasi online, namun tidak bisa menggantikan sepenuhnya, pemeriksaan fisik saat kehadiran pasien di rumah sakit. Di sisi lain, sistem pelayanan kesehatan yang membatasi pendamping dan adanya ruang isolasi tanpa pendamping, dengan jumlah tenaga kesehatan rumah sakit belum sepenuhnya memadai menjadi permasalahan besar pasien lansia dengan demensia di rumah sakit,” terang dr. Yuda.
 
Pada 2016, di Indonesia diperkirakan telah ada sekitar 1,2 juta ODD, angka ini berpotensi  meningkat menjadi 2 juta orang di 2030 dan 4 juta orang pada 2050. Perlakuan yang salah terhadap ODD dapat memperparah kondisi kejiwaan, maka dari itu diperlukan kolaborasi dan kontribusi seluruh pihak termasuk pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup lintas generasi yang lebih sehat.
 
“Salah satu tantangan terbesar penyebarluasan informasi dan peningkatan kepedulian mengenai demensia Alzheimer adalah kurangnya pemahaman hal tersebut sebagai gangguan kesehatan otak. Berdasarkan laporan Alzheimer’s Disease International (ADI), tiap 2 dari 3 orang masih berpikir bahwa demensia atau pikun adalah bagian normal dari penuaan,” ujar Michael Dirk Roelof Maltimoe,  Direktur Eksekutif Alzheimer’s Indonesia.
 
Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya masyarakat, khususnya anak muda, untuk memahami risiko pemicu demensia. Kebiasaan hidup di waktu muda dapat mempengaruhi kesehatan otak di masa depan, maka sebaiknya dilakukan pencegahan dini.
 
“Kita dapat mengurangi risiko demensia Alzheimer sejak usia muda dengan menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menjaga asupan gizi seimbang, berkegiatan positif termasuk dengan memberi perhatian pada orang tua dan keluarga. Kita jangan maklum dengan pikun,” tutup Michael.(f)
 
 

BACA JUGA:
Protein A2 dalam Yoghurt Untuk Menjaga Pencernaan
Agar Mata Tak Alami Gangguan Akibat Kebanyakan Kerja, Sekolah, dan Nonton Drama
Jangan Takut Periksa Kesehatan di Masa Kenormalan Baru, Ini Kiat Aman Berkunjung ke Rumah Sakit

 

 


Topic

#demensia, #alzheimer, #newnormal, #corona

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?