Health & Diet
Temuan Hari Kesehatan Jiwa: Orang di Bawah Usia 30 Tahun Rentan Gejala Cemas

15 Oct 2020


Foto: Unsplash


Kesehatan jiwa merupakan hak asasi manusia, sehingga semua orang mempunyai hak untuk mendapatkan kesehatan jiwa yang baik, termasuk di masa pandemi Covid-19. Inilah yang menjadi perhatian Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2020 pada bulan Oktober ini, IPK Indonesia dan PDSKJI merilis hasil temuan lapangan dan riset, sekaligus mengantisipasi penanganan potensi masalah psikologis akibat beragam tantangan ke depan.

Ketua Umum PDSKJI, DR. Dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS mengatakan, sejak ditemukan kasus Covid-19 pertama kali, PDSKJI segera meluncurkan Swaperiksa Web guna mencegah kepanikan massal dalam suasana batin yang mencekam, sekaligus untuk membantu masyarakat dalam menangani perasaan tidak nyaman. 

Tanggap kesehatan Jiwa di tengah pandemi juga dilakukan oleh Tim Satgas IPK Indonesia dengan memberikan layanan penanganan psikologis sejak Maret 2020 hingga sekarang, baik melalui layanan tatap muka dengan mengikuti protokol kesehatan, layanan telekonseling, hingga  layanan teks.

Menurut Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinis Indonesia, DR. Indria L. Gamayanti, M.Si, Psikolog, selama masa pandemi, IPK Indonesia melakukan pendataan terkait layanan yang diberikan oleh psikolog klinis sesuai masalah yang dikeluhkan masyarakat dan diagnosis yang diberikan sebagai data konkrit untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa dan langkah penanganan psikologis ke depannya.

Temuan dari Swaperiksa Web PDSKJI, 68% masyarakat yang mengakses laman ini mengalami masalah psikologis. Dari 2606 swaperiksa, sebanyak 67.4% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala cemas. Gejala Kecemasan terbanyak ditemukan pada kelompok usia <30 tahun dengan uraian: sebanyak 75,9% terjadi pada kategori usia <20 tahun; 71,5% pada usia 20-29 tahun; 58,8% pada usia 30-39 tahun; 48,7% pada usia 40-49 tahun; 42% usia 50-59 tahun; dan 47,1% usia >60 tahun.

Selain itu, dari 2294 swaperiksa, sebanyak 67,3% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala depresi, di mana 48% dari responden berpikir lebih baik mati atau ingin melukai diri dengan cara apapun. Pikiran kematian terbanyak pada rentang usia 18-29 tahun.

Sedangkan dari kelompok Trauma Psikologis, dari 761 swaperiksa, terdapat 74,2% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala trauma psikologis. Gejala Trauma Psikologis terbanyak ditemukan pada kelompok usia <30 tahun, dengan keluhan tersering berupa perasaan waspada terus menerus dan merasa sendirian atau terisolasi dengan uraian: 90,6% terjadi pada kategori usia <20 tahun; 73,4% pada usia 20-29 tahun; 76,5% pada usia 30-39 tahun; 55% pada usia 40-49 tahun; 38,9% pada usia >50 tahun.

Yang cukup mengkhawatirkan, dari kelompok Bunuh Diri, dengan 110 swaperiksa, 68% yang mengisi Swaperiksa Bunuh Diri memiliki  pemikiran tentang bunuh diri dan 5% di antaranya memiliki rencana matang dan telah  mengambil tindakan dari hasil swaperiksa yang mengatakan memiliki  pemikiran bunuh diri, 66% belum pernah mendapatkan pengobatan.

Temuan yang menarik seputar kesehatan jiwa di tengah pandemi juga didapat oleh Tim Satgas IPK Indonesia untuk Penanggulangan COVID-19 yang beranggotakan 734 psikolog klinis dari seluruh Indonesia. Tim ini melakukan pendataan terkait layanan yang diberikan oleh psikolog klinis selama periode Maret hingga Agustus 2020, dan hasil temuannya sekitar 67,8% dari penerima layanan individual adalah orang dewasa (sebanyak 9428 orang dewasa), klien anak atau remaja sebanyak 4690, sedangkan lansia merupakan kelompok usia yang paling sedikit mengakses layanan oleh psikolog klinis sebanyak 501 orang.

Terdapat enam masalah psikologis tertinggi yang ditemukan berdasarkan keluhan dan hasil diagnosis oleh psikolog klinis, yaitu: hambatan terkait dengan masalah belajar, khususnya pada klien anak dan remaja sebesar 27,2%. Secara umum, masalah psikologis yang secara konsisten banyak ditemukan pada semua kelompok usia adalah keluhan stres umum (23,9%); keluhan kecemasan (18,9%); keluhan mood swing (9,1%); adanya gangguan kecemasan (8,8%), dan keluhan somatis (4,7%). Masalah-masalah ini jika tidak segera mendapat penanganan dapat berlanjut menjadi gangguan lebih serius. (f)


Baca Juga: 
Anak Juga Rentan Alami Gangguan Kesehatan Mental, Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua
Lirik dan Musik Sebuah Lagu Bantu Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi
Lakukan 7 Rutinitas Ini di Pagi Hari untuk Mengurangi Cemas dan Stres
 


Faunda Liswijayanti


Topic

#kesehatanjiwa, #newnormal

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?