Money
5 Perubahan Perilaku Belanja Masyarakat Saat Pandemi COVID-19

9 Oct 2020


Dok. Rawpixel



Walau pandemi COVID-19 membuat banyak omset bisnis menurun dan perekonomian bergerak melambat, namun tak lantas menurunkan daya beli untuk berbelanja. Pasalnya, menurut data Twitter, percakapan tentang belanja meningkat sebanyak 60% sejak Maret 2020 jika dibandingkan dengan Maret tahun lalu.

Menariknya lagi, momen saat masyarakat harus mematuhi aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan berada di rumah saja, membuat mereka lebih cenderung belanja online. Dilihat dari volume Tweet, sebanyak 89% pengguna Twitter di Indonesia melakukan pembelian secara online pada kuartal 1 (satu) 2020. 

Untuk lebih memahami perubahan perilaku selama pandemi, Twitter pun melakukan survei di enam negara di Asia Tenggara, seperti Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Gunanya untuk membantu para pelaku usaha memahami perilaku konsumen lebih baik di masa kini.  

1. Berbelanja serba online
Menurut data dari Toluna, Haris Interactive di periode akhir Juli, sebanyak 59% pengguna Twitter di Indonesia berbelanja online untuk produk-produk yang biasanya dibeli secara offline. Ada kenaikan sebesar 2% pada awal Juli lalu, yang menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk berbelanja online. 

Sementara itu, menurut survei GWI, kebutuhan rumah tangga yang banyak dibeli pengguna Twitter secara daring adalah produk fashion seperti baju dan sepatu (26,9%), produk kecantikan (12,1%), perawatan pribadi (12%), vitamin (11,6%), dan hadiah (8,6%).

2. Meningkatnya penggunaan pembayaran online
Kendati perekonomian negara berjalan lambat, namun tak lantas membuat daya beli masyarakat ikut melemah. Terbukti dari data 38% pengguna Twitter di Indonesia yang lebih sering menggunakan layanan perbankan daring. 

Meningkatnya penggunaan fitur perbankan daring diikuti oleh pertumbuhan belanja online yang juga merangkak naik. Hal ini pun menuntut pihak perbankan menghadirkan layanan yang aman dan praktis untuk transaksi dengan nilai nominal yang lebih besar pada platform e-commerce, seperti misalnya komputer/laptop atau ponsel.

3.    Menemukan informasi dan rekomendasi produk di Twitter
Ketika semua orang saling terhubung di dunia maya, maka platform media sosial bukan hanya untuk berkomunikasi sederhana saja. Ini pun bisa menjadi media untuk menunjukkan produk bagi para pelaku usaha. Karena sebanyak 41% masyarakat Indonesia di Twitter menemukan brand baru berdasarkan rekomendasi di media sosial.

4.    Mudah tergoda free ongkir dan diskon untuk belanja online
Tak dapat dipungkiri, tawaran-tawaran menarik dari penjual dapat menentukan apakah seseorang akan berbelanja atau tidak. Berdasarkan temuan Twitter, ada lima hal yang menjadi pertimbangan konsumen untuk melakukan belanja online. Yaitu gratis ongkos kirim (56,5%), kupon/diskon (55,6%), ulasan pembeli lain (54,1%), jumlah like atau komentar positif di media sosial (41%), dan kebijakan pengembalian yang mudah (35,4%).

5. Tergiur iklan video
Konten promosi yang menarik bisa mendorong calon konsumen untuk membeli sebuah produk. Seperti temuan dalam survei GWI, bahwa 36% pengguna Twitter cenderung membeli produk yang diiklankan. 

Selain itu, menurut data Twitter, terdapat peningkatan konsumsi video sebesar 124% di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa konten promosi berbentuk video yang kini sedang digandrungi, bisa jadi alat untuk menggaet calon konsumen baru. (f)



BACA JUGA :
Catatan dan Laporan Keuangan Jadi Penentu Harga Jual Produk atau Jasa
Pentingnya Menetapkan Tujuan Keuangan Bisnis dan Pribadi
Mengintip Peluang Usaha Masker di Masa Pandemi COVID-19



 


Topic

#corona, #newnormal, #ukm

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?