Money
Jeli Melihat Peluang Ekspor untuk Wirausaha Pasca COVID-19

4 Aug 2020


Dok. Pixabay



Pandemi COVID-19 memang memukul hampir semua lini kehidupan masyarakat di seluruh penjuru dunia. Kesehatan rentan terancam, perekonomian terjun bebas, hingga bisnis banyak yang tumbang. 

Tak terkecuali ekspor. Banyak yang terhambat atau bahkan harus berhenti karena ekspedisi yang tutup, protokol kesehatan yang ketat hingga biaya pengiriman yang melonjak akibat pandemi. Momen ini pun menjadi masa yang menantang bagi para wirausaha berorientasi ekspor untuk bisa terus menjalankan bisnisnya.

Untuk melihat celah peluang ekspor untuk UKM di tengah kondisi pandemi, Facebook
#SheMeansBusiness dan Wanita Wirausaha Femina menggelar talkshow virtual dengan judul Peluang Ekspor untuk UKM  yang disiarkan secara Live di Facebook Page Wanita Wirausaha Femina dan Femina Media pada Selasa, 21 Juli 2020 lalu.

Talkshow kolaborasi ini menghadirkan
Ari Satria, S.E, MA (Kepala Biro Humas Kementerian Perdagangan RI), Annisa Pratiwi (Founder Ladang Lima) dan Ni Kadek Eka Citrawati (Founder Bali Alus).

Seperti yang dipaparkan oleh Ari, bahwa ada beberapa hal yang mempengaruhi aktivitas ekspor akibat pandemi COVID-19 ini. Yaitu adanya beberapa larangan ekspor-impor komoditas pangan dan kesehatan, waktu pengiriman jadi lebih lama, hingga biaya logistik yang bertambah.

Kendati pandemi memberikan dampak yang besar pada bisnis, termasuk aktivitas ekspor, namun menurut Ari Satria selalu ada peluang bagi usaha kecil dan menengah (UKM) dari pergeseran pola aktivitas ekonomi. Misalnya, transaksi atau komunikasi bisnis secara online, dan pembayaran melalui e-payment akan makin banyak dilakukan. Hal ini menuntut para pelaku usaha untuk lebih serius menggarap hal ini demi bisa bertahan di tengah pandemi.

“Terlebih lagi ada perubahan
consumer behavior yang sangat concern terhadap kesehatan dan kebersihan. Orang banyak mencari produk dengan bahan baku yang memiliki standar kesehatan dan higienitas. Jadi produk apapun yang kita pasarkan, harus terjamin.” tambahnya. 

Ia pun memprediksi bahwa pasca COVID-19, kecenderungan pasar terhadap produk tertentu akan berubah, terutama untuk ekspor. Pasalnya, karena sekarang masing-masing negara memiliki fokus ekonomi sendiri, tentunya yang akan diprioritaskan adalah produk-produk bahan baku untuk industri yang ada. 

“Sama seperti Indonesia, masing-masing negara ini lagi butuh pelumas untuk bisa menggerakkan roda perekonomian. Kini yang mereka prioritaskan adalah bahan baku yang bisa mereka supply untuk memenuhi industri mereka,” jelasnya lagi.

Selain produk bahan baku, produk-produk kebutuhan dasar seperti makanan, minuman dan kesehatan, masih akan diminati oleh konsumen luar negeri. Dengan catatan, sisi kesehatan dan higienitas harus menjadi syarat utama. 

Namun, ia kembali mengingatkan, bahwa kemampuan beradaptasi dengan pasar bisa menjadi kekuatan untuk bertahan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. Pasalnya memang, menurut Ari, dengan atau tanpa COVID-19, kondisi dan selera pasar akan selalu berubah.



Lanjut ke halaman berikutnya.




BACA JUGA :
Ini Karakteristik yang Dibutuhkan Para Pebisnis dalam Menghadapi Masa Sulit
Mengintip Cara 3 Bisnis Sukses Terapkan Kampanye Sosial
Bisnis Berdampak Sosial Lebih Disukai, Ini Manfaatnya Bagi Bisnis Anda


 



Topic

#Corona, #newnormal, #ekspor, #wanwir, #facebook, #shemeansbusiness

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?