Trending Topic
Bisnis Berdampak Sosial Lebih Disukai, Ini Manfaatnya Bagi Bisnis Anda

2 Jul 2020


Dok. Shutterstock




Dampak pandemi pada perubahan perilaku masyarakat terlihat sangat menarik. Ketika roda ekonomi sempat bergerak sangat lambat, jiwa sosial masyarakat justru bergerak naik sangat tajam.

Ini juga terjadi di dunia usaha, di mana para pelaku bisnis tak hanya meraup untung dari usaha yang dilakukannya, tapi juga menyisihkan apa yang didapat untuk mereka yang membutuhkan. Niat ini pun memberikan inovasi-inovasi baru bagi para pelaku usaha, untuk meningkatkan bisnis mereka sekaligus memberikan nilai lebih bagi sekitar.


Mengangkat fenomena business with a cause, Facebook #SheMeansBusiness dan Wanita Wirausaha Femina menggelar talkshow virtual dengan judul Berbisnis Sambil Berbagi yang disiarkan secara Live di Facebook Page Wanita Wirausaha Femina pada Selasa, 23 Juni 2020 lalu.

Talkshow kolaborasi ini menghadirkan Tuhu Nugraha (pakar digital marketing), Tunjung Larasati (Co-Founder NIION), Avanda Hanafiah (Executive Chef & F&B Director Al's Catering), Allesandra Hanafiah (Creative Director & Pastry Chef Al's Catering) dan Fitria Debora (Business Development Account Officer Du'anyam).

Menurut studi yang dilakukan Cone Cause Evolution (2013) sekitar 91 persen konsumen mengatakan akan memilih
brand yang memiliki misi sosial yang baik jika ditawarkan dua produk dengan harga dan kualitas yang sama. 

Selain itu, 92 persen konsumen akan membeli produk yang memberikan keuntungan sosial atau lingkungan, dan 67 persen konsumen mengatakan bahwa mereka sudah melakukan hal ini 12 bulan terakhir. 

Menurut Tuhu, generasi yang akrab dengan dunia digital, memang lebih punya kepedulian terhadap isu sosial. Hal ini dikarenakan generasi seperti milenial adalah generasi pertama yang bisa dengan mudah mengakses informasi dimanapun, salah satunya lewat media sosial. 

“Jadi memang generasi muda ini lebih
concern, karena mereka bisa melihat lebih nyata," jelas Tuhu.

Selain itu, dengan memasuki era yang serba digital, para milenial kebingungan untuk memilih produk karena begitu banyaknya pilihan yang tersebar di jagat maya. Sehingga, di antara banyaknya tawaran serupa dengan harga yang kompetitif, sebuah brand dengan nilai ‘lebih’ menjadi lebih menarik untuk dipilih. 

"Karena ada sebuah cerita di baliknya. Sekarang kita bukan lagi memilih fungsi, tapi juga
what's the story. Beda dengan zaman dulu, orang tinggal ke toko dan pilihannya terbatas," papar Tuhu.

Dengan cerita yang bagus, mereka bisa menceritakan ulang kisah tersebut ke media sosialnya.

"
Doing good itu sekarang jadi social currency seseorang," Tuhu menekankan. 

Saat ini, kegiatan pemasaran berbasis sosial memang sedang bertumbuh pesat, yang tak hanya dilakukan oleh
social entrepreneur tapi juga para pebisnis berbasis profit. Menurut Tuhu, pemasaran berbasis sosial memang memberikan dampak baik bagi perusahaan itu sendiri. 

Pasalnya, di zaman sekarang konsumen itu tak hanya membeli produk, tapi juga cerita.

“Orang itu suka dengan cerita, fungsional menjadi nomor dua. Dan cerita (dengan cara pemasaran sosial) akan membuat brand kita menjadi lebih kuat,” papar Tuhu.

Brand yang kuat akan membedakannya dengan brand-brand yang lain dan membuat konsumen percaya.

“Dengan visi sosial yang kuat, tidak akan membuat orang mudah berpindah ke lain hati, kendatipun ada brand lain yang menawarkan harga yang lebih murah,” jelasnya.



Lanjut ke halaman berikutnya : Syarat Melakukan Kampanye Pemasaran Sosial.



BACA JUGA :
Pola Konsumsi Masyarakat Berubah Pasca Pandemi COVID-19, Ini yang Perlu Diperhatikan UMKM
Maksimalkan Penjualan Online Selama Masa COVID19 untuk Lancarkan Bisnis
Cara 3 Wanita Wirausaha Muda Sukses Jeli Membaca Peluang Bisnis di Tengah Pandemi COVID-19


 



Topic

#wanwir, #corona, #newnormal, #wanwir, #facebook, #mahirdigital, #shemeansbusiness, #bisnissosial

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?