Trending Topic
Burnout Syndrome Hantui Tenaga Medis Indonesia di Tengah Pandemi COVID-19

7 Sep 2020


Dok. Rawpixel




Amnesty International baru saja merilis laporan yang menyebutkan bahwa setidaknya 7.000 petugas medis di seluruh dunia meninggal akibat virus corona. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dari laporan sebelumnya di bulan Juli yang ditemukan ada 3.000 tenaga medis yang wafat. 

Di Indonesia sendiri, setidaknya sudah ada 181 tenaga medis (per 7 September 2020) yang meninggal dunia akibat virus corona. Lebih rinci, yaitu 112 orang dokter dan 69 perawat.

Menurut Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Ari Fahrial Syam, bahwa belum bisa diketahui pasti penyebab kematian tenaga medis COVID-19, karena secara forensik Indonesia belum memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan tersebut. Namun berdasarkan penelitian terbaru oleh Program Studi Magister Kedokteran Kerja FKUI yang dirilis 5 September lalu, salah satu penyebabnya disebabkan bisa dikarenakan kelelahan bekerja. 

Menurut temuan tersebut, sebanyak 83% tenaga kesehatan di Indonesia mengalami
burnout syndrome derajat sedang dan berat, yang secara psikologis sudah berisiko mengganggu kualitas hidup dan produktivitas kerja dalam pelayanan kesehatan. Lebih lanjut, bahwa dokter umum yang menjalankan tugas pelayanan medis di garda terdepan selama pandemi COVID-19 ini memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami burnout syndrome.

Burnout pada tenaga medis dapat menimbulkan rasa letih, baik fisik maupun emosi, yang akan membuat daya tahan tubuh melemah. Hal ini pun dapat membuat mereka lebih rentan terhadap paparan COVID-19 dan berisiko menimbukan gejala yang parah sehingga menyebabkan kematian. 

“Tingginya risiko menderita
burnout syndrome akibat stres luar biasa berat di fasilitas kesehatan selama pandemi ini dapat mengakibatkan efek jangka panjang terhadap kualitas pelayanan medis, karena mereka bisa depresi, kelelahan ekstrim bahkan merasa kurang kompeten dalam menjalankan tugas,” papar Dr. dr. Dewi Soemarko, MS, SpOK, Ketua Tim Peneliti. 

Dalam penelitian ini, juga ditemukan hal lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Misal, sekitar 41% tenaga kesehatan mengalami kelelahan emosi derajat sedang dan berat, dokter yang menangani pasien COVID-19 langsung berisiko dua kali lebih besar mengalami keletihan emosi dan kehilangan empati dibandingkan dokter yang tidak menangani pasien virus corona.

Parahnya lagi, sekitar 75% fasilitas kesehatan di Indonesia tidak melakukan pemeriksaan
swab rutin dan 59% tidak melakukan rapid test rutin bagi tenaga kesehatannya. 

“Kendala-kendala ini tentu dapat memengaruhi terhadap upaya kita dalam memerangi COVID-19. Kita juga perlu proteksi, bukan hanya kesehatan fisik, tapi juga mental para tenaga kesehatan, terutama yang bertugas selama masa pandemi ini,” tambah dr. Dewi.




BACA JUGA :
Jutaan Kehamilan Tidak Direncanakan Diperkirakan Terjadi Pada Masa Pandemi
WHO : Pandemi COVID-19 Diperkirakan Akan Berakhir dalam Waktu 2 Tahun
Benarkah Risiko Anak-Anak Jadi Penyebar Virus COVID-19 Lebih Tinggi Dari Orang Dewasa?



 



Topic

#corona, #newnormal

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?