Trending Topic
Jangan Abaikan Ancaman Krisis Iklim Di Tengah Pandemi COVID-19

28 Jul 2020


Foto: Pexels

 
Krisis COVID-19 membuat perhatian dunia tercurah pada pandemi yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Akan tetapi sesungguhnya ada bahaya lain yang mengancam bumi, yaitu darurat krisis iklim.

Pemanasan global menjadi ancaman utama masyarakat dan anak-anak di Asia Pasifik. National Oceanic and Atmospheric Administration di Amerika Serikat menyebutkan bahwa tahun 2020 dipastikan menjadi satu dari dua tahun terpanas dalam 141 tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah karena terjadinya panas tertinggi di Siberia, Rusia. Di Kawasan tersebut temperatur rata-rata bulan Juni naik lebih dari 5oC di atas normal.

“Bumi kita sedang mengalami demam. Kita perlu mencarikan pengobatannya dengan segera. Jika tidak, anak-anak hari ini akan mewarisi sebuah planet yang sedang terbakar. Dunia di mana pandemi akan menjadi ancaman yang konstan dan kehidupan anak-anak kita itu akan dipersuram oleh krisis iklim yang tidak mereka ciptakan,” jelas Selina Patta Sumbung, Chairperson Save the Children Indonesia, sebuah organisasi yang berjuang memperbaiki kualitas hidup anak.

Pemanasan global mengakibatkan cuaca ekstrim yang timbulkan banjir dan kekeringan yang di Bangladesh, Cina, India, Nepal, dan Indonesia. Pada tahun 2050 akan lebih banyak kota-kota di pesisir Asia Pasifik dan negara kepulauan kecil yang menderita karena cuaca buruk.

Banjir dan tanah longsor yang terjadi pada awal tahun 2020 di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat telah mengakibatkan 64 orang meninggal dan 200.000 orang mengungsi. Saat itu curah hujan mencapai 400 mm/hari. Ini merupakan rekor curah hujan tertinggi sejak tahun 1866.

Sementara itu, pada 13 Juli lalu, terjadi banjir dan tanah longsor di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Curah hujan sangat tinggi di bulan Juli menunjukkan perubahan iklim yang nyata, membuat lebih dari 14 ribu orang terpaksa mengungsi dan 38 orang meninggal dunia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa 90% bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorogi, yaitu bencana alam yang terjadi karena fenomena meteorologi, seperti banjir, angin kencang, hujan lebat, dan gelombang tinggi.

Asia Pasifik merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana.

“Kecuali kita bertindak cepat, krisis iklim akan mengakibatkan terjadinya dampak yang sangat merusak atau catastrophic bagi kehidupan ratusan juta orang di wilayah tersebut,” ujar Profesor Benjamin Horton, Direktur Earth Observatory Singapura sekaligus anggota Intergovernmental Panel on Climate Change.

Namun berdasarkan analisis Save The Children jumlah diskusi publik terkait iklim menurun drastis setelah COVID-19 melanda Asia Pasifik. Hal ini berbeda dengan tahun 2019 di mana percakapan tentang iklim meningkat secara stabil. COVID-19 mendominasi pemberitaan media dan sebabkan beragam konferensi dan unjuk rasa dibatalkan.

Berdasarkan analisis di 17 negara, diskusi publik tentang iklim di Asia Pasifik mengalami penurunan hingga setengah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Secara global, diskusi publik daring tentang iklim antara April dan Juni tahun ini merosot 70% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Untungnya masih banyak anak muda yang peduli tentang perubahan iklim dan terdorong mengampanyekan gaya hidup berkelanjutan.

“Saya sangat sedih melihat krisis iklim yang terjadi dimana-mana. Semuanya berdampak kepada kita juga, seperti penggunaan plastik.  Dengan ini saya ingin mengajak semuanya untuk mengurangi penggunaan plastik. Ayo kita gunakan barang-barang seperti tumbler dan bawa tote bag kalau belanja ke toko serba ada,” ujar Kania Trisna Rahayu, remaja asal Pangalengan, Jawa Barat.

Pemerintah hendaknya tidak abai akan krisis iklim yang terjadi. Anak-anak muda yang bersuara demi kelestarian iklim perlu mendapat dukungan penuh. Melalui Save The Children, Selina ingin mendukung kampanye iklim anak muda di seluruh Asia Pasifik termasuk Indonesia.

“Anak muda aktivis iklim telah mengingatkan kita bahwa manusia telah melakukan penyalahgunaan alam dan isinya di luar batas kemampuannya. Sekarang, kita membayar harga dari pengabaian peringatan mereka itu. Tetapi, kami ingin mengatakan bahwa kami mendengar kalian’”, kata Selina.

Penelitian menunjukkan bahwa pandemi yang disebabkan oleh virus binatang akan semakin meluas dan sering terjadi. Sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas manusia, seperti penebangan hutan dan polusi yang merusak habitat alam liar. Akan tetapi, Selina berpendapat pemulihan COVID-19 membuka kesempatan untuk mengurangi risiko pandemik dan bencana iklim.

“Di samping mendukung penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, rencana pemulihan COVID 19 harus mempercepat perubahan ke ekonomi yang lebih rendah karbon. Industri yang mendapatkan dananya dari publik harus bertekad kuat dan dapat didorong ke arah kegiatan yang ramah lingkungan. Investasi lebih banyak juga diperutukkan untuk melindungi masyarakat rentan dari krisis di masa yang akan datang,” pungkasnya.(f)
 



BACA JUGA:
Jangan Buang Sembarangan Masker dan Sarung Tangan Bekas, Limbah Ini Perlu Penanganan Khusus
Masyarakat ASEAN Rela Membayar Lebih Mahal Demi Produk yang Dukung Conscious Lifestyle
Mengenal Conscious Lifestyle, Tren Gaya Hidup Konsumen ASEAN, Termasuk Indonesia

 


 


Topic

#corona, #newnormal, #pemanasanglobal

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?