Trending Topic
Menteri Kesehatan Tetapkan Beberapa Istilah Baru Terkait COVID-19

15 Jul 2020


Foto: Unsplash 

 
Terawan Agus Putranto, Menteri Kesehatan mengganti sejumlah istilah terkait COVID-19 dengan sejumlah sebutan baru. Terawan menyebut perubahan ini dilakukan untuk mengikuti ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sehingga data yang dihasilkan pun lebih kredibel sesuai ketetapan WHO.

“Memang istilahnya begitu, harus kita ikuti. Kalau sesuatu itu tidak sesuai dengan WHO juga aneh sendiri. Jadi kita mengikuti apa yang WHO haruskan. Kita negara paling taat sama WHO, WHO bilang istilahnya itu, kita ikuti,” terangnya seperti yang dikutip dari detik.com.

Beberapa istilah yang diganti itu antara lain orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG).

Penetapan tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 ( COVID-19). Berikut ini adalah istilah baru beserta definisinya sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan.
 
1. Kasus Suspek
Kasus suspek ialah seseorang yang memiliki salah satu dari kriteria ini:

a. Orang dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.

b. Orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable Covid-19.

c.Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

“Maka semua kasus PDP adalah kasus suspek. Bahkan kasus ODP di mana ada keluhan ISPA dan pernah kontak dengan kasus terkonfirmasi positif itu pun termasuk dalam kasus suspek,” ujar Achmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah Untuk Penanganan Virus Corona seperti dikutip dari kompas.com.
 
2. Kasus Probable
Kasus probable adalah kasus suspek dengan ISPA berat atau meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium real time PCR.

Yurianto menjelaskan hasil klinis yang menunjukkan COVID-19 bisa diperoleh melalui rontgen paru atau hasil pemeriksaan laboratorium darah. Akan tetapi, jika belum terkonfirmasi berdasarkan pemeriksaan real time PCR, maka kasus tersebut termasuk kasus probable.
 
3. Kasus Konfirmasi
Kasus konfirmasi adalah seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium real time. Kasus konfirmasi terbagi dua, yaitu kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) dan kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik).
 
4. Kontak Erat
Kontak erat adalah orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi COVID-19. Riwayat kontak yang dimaksud adalah:

a. Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih.

b. Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi (seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain).

c. Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai standar.

d. Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat.

Untuk menemukan kontak erat pada kasus probable atau konfirmasi yang bergejala (simptomatik), periode kontak dihitung dari dua hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala.

Sementara, untuk menemukan kontak erat pada kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik), periode kontak dihitung dari dua hari sebelum dan 14 hari setelah tanggal pengambilan spesimen kasus konfirmasi.(f)
 



BACA JUGA:
COVID-19 Masih Ada di Sekitar Kita. Jangan Asal Pakai Masker, Ini Cara yang Benar
Face Shield Tidak Efektif Menangkal COVID-19 Tanpa Masker
239 Ilmuwan Temukan Bukti Penularan COVID-19 Melalui Udara



 


Topic

#newnormal, #corona, #menkes, #kemenkes, #kepmenkes

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?