Trending Topic
Pola Konsumsi Masyarakat Berubah Pasca Pandemi COVID-19, Ini yang Perlu Diperhatikan UMKM

23 Jun 2020



Dok. Shutterstock




Awal Juni 2020 ini, pemerintah sudah mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Perkantoran sudah mulai beroperasi kembali, sejumlah pusat perbelanjaan dibuka hingga transportasi umum sudah mulai bisa diakses khalayak ramai.

Dengan dilonggarkannya kebijakan PSBB ini, tentu bisa menjadi peluang manis bagi para wirausaha untuk memulai kembali bisnisnya atau mengembangkannya lebih besar. Namun, sebelum memulai langkah di fase kenormalan baru ini, penting untuk lebih jeli melihat keadaan. 

Pasalnya, pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal. Tak hanya pada bagaimana virus corona membuat kita menjadi lebih mementingkan kebersihan dan kesehatan, tapi juga mengubah pola konsumsi masyarakat yang mengikuti keadaan.

Agar para wanita wirausaha tak salah ambil langkah dan menentukan strategi usaha pasca pandemi ini, Facebook #SheMeansBusiness dan Wanita Wirausaha Femina menggelar
talkshow virtual bertemakan Peluang Bisnis Setelah COVID-19 yang disiarkan secara Live di Facebook Page Wanita Wirausaha Femina pada Selasa, 16 Juni 2020 lalu. 

Talkshow kolaborasi ini menghadirkan Yuswohady (pengamat konsumen dan pakar marketing, Managing Partner Inventure), Amanda Cole (Co-Founder dan CEO Sayurbox), Lintang Wuriantari (Co-Founder dan Chief Tea Executive Officer Matchamu), dan Uma Hapsari (Founder Amazara).

Seperti penuturan Yuswohady, bahwa ada empat perubahan pola konsumsi paling mendasar yang terjadi akibat pandemi COVID-19 ini yang perlu dicermati para pebisnis.
Pertama, di awal pandemi COVID-19 anjuran untuk di rumah saja membuat kegiatan sekolah, bekerja hingga berbelanja harus bisa dilakukan di rumah. Keadaan ini membentuk sebuah gaya hidup baru yang disebut stay at home lifestyle

Kedua, dengan keadaan pandemi COVID-19 yang berdampak pada perekonomian negeri, membuat masyarakat lebih selektif dalam memilih kebutuhannya. "Jika awalnya membeli barang dengan banyak tujuan, untuk aktualisasi diri dan lain-lain. Kini semuanya kembali ke kebutuhan dasar, seperti makan, minum, kesehatan hingga wifi," papar Yuswohady yang menyebutkan perubahan perilaku ini sebagai the bottom of pyramid

Ketiga, dengan segala sesuatu yang dilakukan di rumah saja, semua aktivitas sangat bergantung pada komunikasi virtual. Mulai dari belajar, bekerja, berolahraga hingga sekadar bersosialisasi bersama teman-teman semuanya jadi go virtual.

Dan
keempat, di tengah krisis ekonomi yang terjadi akibat pandemi ini, membuat banyak masyarakat yang kesulitan secara finansial. Menurut Yuswohady, ini memunculkan perilaku baru untuk saling tolong menolong. Terbentuklah empathic society dimana masyarakat saling memberikan donasi dan menumbuhkan social movement lainnya.

"Perubahan perilaku tersebut akan mengubah cara kita berbisnis, karena operasi bisnis sebelum dan pasca pandemi pasti akan bergeser atau berubah," kata Yuswohady.


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?